Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kalau nilai tukar rupiah pada dolar Amerika Serikat pada Maret 2017 terapresiasi sebesar 0, 22 %. Kepala BPS Suhariyanto dalam jumpa pers di Jakarta Senin (17/4) menyampaikan kalau level paling tinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah pada dolar Amerika berlangsung pada minggu ke lima Maret 2017 yang meraih Rp13. 307, 84 per dolar Amerika.

Rupiah Terapresiasi 0.22 Persen

“Berdasar pada propinsi, level paling tinggi kurs tengah berlangsung di Propinsi Papua yang meraih Rp13. 206, 38 per dolar Amerika pada minggu ke lima Maret 2017, ” kata Suhariyanto. Pantauan BPS itu berdasar pada transaksi yang berlangsung ditempat penukaran mata uang, yang menyebar di semua Indonesia dan juga melukiskan tingkat retail spot rate satu mata uang.

Nilai tukar rupiah juga terapresiasi 0, 31 % pada dolar Australia, dengan level paling tinggi rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah berlangsung pada minggu ketiga Maret 2017 yang meraih Rp10. 089, 17 per dolar Australia. Sedang menurut propinsi, level paling tinggi kurs tengah berlangsung di Propinsi Papua yang meraih Rp9. 882, 50 per dolar Australia pada minggu ketiga Maret 2017.

Disamping itu, rupiah terdepresiasi 1, 46 % pada yen Jepang pada Maret 2017. Level paling rendah kurs tengah berlangsung di Propinsi Sumatera Utara yang meraih Rp120, 87 per yen Jepang pada minggu ke lima Maret 2017. Terdaftar, level paling rendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah pada yen Jepang berlangsung pada minggu ke lima Maret 2017 yang meraih Rp118, 85 per yen Jepang.

Rupiah terdepresiasi 2, 00 % pada euro pada Maret 2017. Level paling rendah rata-rata nasional kurs tengah eceran rupiah pada euro berlangsung pada minggu ke lima Maret 2017 yang meraih Rp14. 367, 07 per euro. Sedang menurut propinsi, level paling rendah kurs tengah berlangsung di Propinsi Banten yang meraih Rp14. 587, 33 per euro pada minggu ke lima Maret 2017.

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta di Jakarta, Senin menyampaikan kalau mata uang rupiah masihlah di trend penguatan di dalam gerakan walau terbatas di dalam kurs di lokasi Asia yang beragam pada dolar AS. ” Gosip geopolitik global masihlah membawa ketidakpastian di pasar keuangan, ” tuturnya kepada situs http://kursdollar.co.id.

Ia memberikan kalau pelemahan dolar AS juga bersamaan dengan pelaku pasar yang merespon inflasi Amerika Serikat yang lebih buruk. Di uraikan, inflasi AS turun ke 2, 4 % pada Maret (year on year/YoY) dari 2, 7 %. Inflasi inti turun ke 2, 0 % YoY dari 2, 2 % YoY.

Di segi lain, lanjut dia, ketentuan Presiden AS Donald Trump yg tidak memasukkan Tiongkok sebagai negara yang merekayasa kursnya menaikkan argumen untuk dolar AS untuk melemah. Dari dalam negeri, ia menyampaikan, sentimen politik domestik tentang Penentuan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran ke-2 juga masihlah jadi perhatian pelaku pasar uang. ” Kondisi itu bisa buka kesempatan rupiah di periode pendek, ” tuturnya.

Analis Kurs BII memberikan kalau pelaku pasar uang yang masihlah optimistis pada fundamental ekonomi nasional juga ikut melindungi nilai tukar rupiah selama 2017. ” Fundamental ekonomi yang kondusif bakal melindungi rupiah untuk periode panjang, ” tuturnya.